https://jurnal.umsrappang.ac.id/cakrawala/issue/feedCakrawala Indonesia2026-11-02T00:07:47+08:00Yusmahyusmah.umsrappang@gmail.comOpen Journal Systems<p>Cakrawala Indonesia is a peer-reviewed scientific open access journal, with ISSN 2527-5151 (print) dan 2686-6471 (online). It has been published since 2016 by the Department of Indonesia Language Education and Literature, STKIP Muhammadiyah Rappang. The institution be an Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang in 2019. It is issued semiannually: in Mei and Nopember.</p> <p><strong>Cakrawala Indonesia</strong> is accredited as a rank 4 national journal <strong>(Sinta 4)</strong> based on the decision of the General Director of Strengthening Research and Management, Ministry of Research, Technology and Higher Education of the Republic of Indonesia <a href="https://drive.google.com/file/d/1wPZm4cmk5Y_3nBAdRTFg7W2z11meMvia/view?usp=share_link">Number: 204/E/KPT/2022</a>. The status of <strong>Cakrawala Indonesia</strong> accreditation is valid until Volume 9 Number 2 of 2024<strong>.</strong></p>https://jurnal.umsrappang.ac.id/cakrawala/article/view/2363Interpretasi Sense dan Reference dalam Novel Nyala Semesta Karya Farah Qoonita: Pendekatan Hermeneutika2026-11-01T13:28:57+08:00Nur Amalia Hastabnur.amalia008@gmail.comFaisal Faisalfaisal@unm.ac.idRidwan Ridwanridwan@unm.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil interpretasi sense dan reference dalam novel <em>Nyala Semesta</em> karya Farah Qoonita dengan menggunakan pendekatan hermeneutika Paul Ricoeur. Pendekatan ini dipilih karena mampu mengungkap makna internal dalam teks (<em>sense</em>) serta makna eksternal yang menghubungkan teks dengan realitas sosial (<em>reference</em>). Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik studi pustaka. Data berupa kutipan, paragraf, dan dialog dalam novel yang mencerminkan pengalaman emosional, konflik batin, simbolisme, dan situasi sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sense dalam novel tergambar melalui eksplorasi batin dan emosi tokoh, serta simbolisme naratif yang mencerminkan perjuangan dan penderitaan di Gaza. Sementara itu, reference muncul melalui hubungan teks dengan peristiwa nyata, seperti blokade, agresi militer, dan trauma anak-anak Palestina. Analisis ini memperlihatkan bahwa karya sastra tidak hanya menyajikan dunia fiktif, tetapi juga merefleksikan dan mengkritisi realitas kemanusiaan. Penelitian ini menegaskan bahwa hermeneutika Ricoeur efektif untuk mengkaji teks sastra secara mendalam dan memberi pemahaman baru tentang relasi antara teks dan dunia nyata.</p>2026-11-01T00:00:00+08:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.umsrappang.ac.id/cakrawala/article/view/2782Hubungan Intensitas Gamifikasi pada Pembelajaran Bahasa Indonesia dengan Kemampuan Membaca Pemahaman dan Motivasi Belajar Siswa Kelas III2026-11-01T13:28:57+08:00Nasywa Aufa Fadhillah Dzikranaswaafd28@gmail.comNuratika Syuhadasyuhadanuratika@gmail.comNur Hidayatul Adhanaswaafd28@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji hubungan antara intensitas gamifikasi dalam pembelajaran bahasa Indonesia dengan kemampuan pemahaman bacaan serta motivasi belajar siswa kelas III di SDN 188 Pekanbaru. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Partisipan penelitian terdiri dari 30 siswa kelas III yang dipilih menggunakan teknik sampling jenuh. Data dikumpulkan melalui kuesioner berskala Likert untuk mengukur intensitas gamifikasi dan motivasi belajar, serta tes pemahaman bacaan. Analisis data mencakup analisis deskriptif, uji normalitas Shapiro-Wilk, dan analisis korelasi Spearman's Rho. Uji normalitas menunjukkan bahwa data tidak berdistribusi normal; oleh karena itu, uji Spearman's Rho digunakan untuk mengkaji hubungan antarvariabel. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara intensitas gamifikasi dan kemampuan pemahaman bacaan. Hubungan positif dan signifikan yang sangat kuat juga ditemukan antara intensitas gamifikasi dan motivasi belajar, dengan koefisien korelasi Spearman sebesar 0,956 dan nilai p < 0,001. Temuan ini mengindikasikan bahwa siswa yang melaporkan tingkat pengalaman lebih tinggi terhadap gamifikasi cenderung menunjukkan kemampuan pemahaman bacaan dan motivasi belajar yang lebih tinggi pula. Namun, karena penelitian ini menggunakan desain korelasional, temuan tersebut menunjukkan adanya hubungan statistik dan bukan hubungan sebab-akibat. Penelitian ini menyarankan bahwa gamifikasi dapat dipertimbangkan sebagai pendekatan instruksional dalam pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya ketika elemen-elemen permainan diselaraskan dengan tujuan pembelajaran dan kegiatan literasi siswa.</p> <p><em> </em></p>2026-10-15T06:33:51+08:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.umsrappang.ac.id/cakrawala/article/view/3115Analisis Tindak Tutur Bahasa Humor dalam Percakapan Sehari-hari Warga Desa Cinnong Kecamatan Sibulue Kabupaten Bone2026-11-01T13:28:57+08:00Aulia Auliaaulialianya31@gmail.comMuh. Safarsafarmuhammad785@gmail.comSuhardiman Suhardimansuhardimanbone@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan menganalisis tindak tutur dalam bahasa humor warga Desa Cinnong, Kecamatan Sibulue, Kabupaten Bone, dengan fokus pada tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi serta fungsi sosialnya dalam komunikasi sehari-hari. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data berupa tuturan humor lisan warga yang muncul secara alami dalam berbagai situasi interaksi. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, perekaman percakapan, dan pencatatan tuturan. Data dianalisis menggunakan model interaktif melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa humor warga Desa Cinnong mengandung tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi, dengan tindak tutur ilokusi sebagai bentuk yang paling dominan. Dominasi tersebut menunjukkan bahwa humor warga cenderung menyampaikan maksud secara tidak langsung dan mengandung makna di balik tuturan literal. Berdasarkan klasifikasi Martin (2019), ditemukan empat jenis humor, yaitu humor langsung, humor berbasis situasi, humor evaluatif, dan humor ironi, dengan humor ironi sebagai jenis yang paling dominan. Secara sosial, bahasa humor berfungsi sebagai hiburan, penguat hubungan sosial, penyampai kritik dan koreksi secara halus, pencipta relaksasi, penyampai pesan edukatif, serta penanda identitas budaya Bugis. Temuan ini menegaskan bahwa humor merupakan praktik komunikasi yang memiliki makna pragmatis dan fungsi sosial dalam kehidupan masyarakat Desa Cinnong.</p>2026-10-05T00:00:00+08:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.umsrappang.ac.id/cakrawala/article/view/3143Ujaran Kebencian di Kolom Komentar Media Sosial Instagram Akun @Prabowo: Kajian Linguistik Forensik2026-11-01T13:28:57+08:00Gendhis Ananda Dewantia310220073@student.ums.ac.idGallant Karunia Assidikgka215@ums.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi bentuk serta karakteristik kebahasaan ujaran kebencian dalam komentar Instagram @Prabowo dan mengkaji pemanfaatannya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Penelitian ini menerapkan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan linguistik forensik. Data berupa komentar warganet diperoleh melalui dokumentasi, teknik simak, dan catat, kemudian dianalisis menggunakan metode padan intralingual. Hasil penelitian mengidentifikasi tiga bentuk ujaran kebencian, yaitu penghinaan, provokasi, dan pencemaran nama baik, dengan penghinaan sebagai bentuk yang paling banyak. Ujaran tersebut ditandai oleh makian, ejekan, pelabelan negatif, sindiran, sarkasme, serta penggunaan huruf kapital dan pengulangan huruf. Penelitian juga menunjukkan bahwa komentar bernada negatif tidak selalu merupakan ujaran kebencian karena sebagian berupa kritik terhadap kebijakan dan kinerja pemerintah. Temuan ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran untuk mengembangkan literasi digital, kemampuan berpikir kritis, dan etika berbahasa</p>2026-10-08T09:04:57+08:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.umsrappang.ac.id/cakrawala/article/view/3108Proses Pembentukan Reduplikasi Bahasa Melayu Dialek Pulau Tiga Barat di Desa Selading Kabupaten Natuna2026-11-01T13:28:58+08:00Yesi TrianiYesitriani4@gmail.comFitri Wulansarifiwusa84@gmail.comEti Ramaniyaretiramaniyar@upgripnk.ac.id<p>Bahasa Melayu Dialek Pulau Tiga Barat di Desa Selading, Kabupaten Natuna, memiliki karakteristik morfologis khas pada proses reduplikasi, tetapi dokumentasi ilmiahnya masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan serta menganalisis proses pembentukan reduplikasi dalam dialek tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui teknik simak libat cakap, wawancara mendalam, dan dokumentasi terhadap tiga penutur jati yang dipilih secara purposif. Analisis data menerapkan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña yang mencakup reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reduplikasi terbagi menjadi lima tipe: utuh, sebagian, berimbuhan, berubah bunyi, dan semu. Proses pembentukannya dipengaruhi karakteristik morfofonemik lokal, seperti nasalisasi, asimilasi vokal, diftongisasi, dan retensi bunyi [gh]. Secara semantis, reduplikasi berfungsi menyatakan makna jamak, keanekaragaman, kemiripan, duratif, resiprok, serta intensifikasi. Temuan ini memperkaya kajian morfologi dialek Melayu sekaligus memperkuat dokumentasi bahasa daerah</p>2026-10-09T06:55:19+08:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.umsrappang.ac.id/cakrawala/article/view/2735An Analysis of the Phenomena of Limerence and Learned Helplessness in the Lyric Narrative of the Song 'Sewindu': A Phenomenological Study2026-11-01T13:28:58+08:00Melva Melvinamelvamelvina7@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi representasi psikologis dari kondisi limerence dan learned helplessness (ketidakberdayaan yang dipelajari) dalam lirik lagu "Sewindu" karya Tulus. Sebagai salah satu karya musik populer paling berpengaruh di Indonesia, "Sewindu" menawarkan narasi mendalam tentang pengabdian romantis yang tidak terbalas selama delapan tahun. Dengan menggunakan metode Interpretative Phenomenological Analysis (IPA), penelitian ini membedah makna subjektif di balik bait-bait lirik untuk mengidentifikasi pola obsesi kognitif dan kepasifan emosional. Hasil analisis menunjukkan adanya tiga tema utama: (1) Intruksi kognitif dan fiksasi emosional yang mencerminkan fase limerence; (2) Stagnasi perilaku akibat persepsi ketiadaan kontrol (learned helplessness); dan (3) Krisis identitas akibat ketergantungan emosional yang berkepanjangan. Temuan ini memberikan kontribusi pada studi psikologi sastra dan musikologi dengan menyoroti bagaimana budaya populer merepresentasikan kerentanan kognitif dalam relasi interpersonal.</p> <p>Kata kunci: Limerence, Learned Helplessness, Sewindu, Fenomenologi, Psikologi Lirik.</p>2026-10-14T06:25:39+08:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.umsrappang.ac.id/cakrawala/article/view/2686Penggunaan Tingkat Tutur Bahasa Jawa Dalam Interaksi Edukatif Guru Dan Siswa Di Sd Negeri Ngerimbi 12026-11-01T13:28:58+08:00Ahmad Nurjamanahmadnurjaman@mhs.unhasy.ac.idAhmad Faiziahmadfaizi@unhasy.ac.id<p>Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan tingkat tutur bahasa Jawa dalam interaksi edukatif antara guru dan siswa di SD Negeri Ngerimbi 1 serta mengidentifikasi faktor-faktor sosial yang memengaruhi pemilihannya dalam konteks pembelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif dan berpijak pada kajian sosiolinguistik melalui metode etnografi komunikasi. Data penelitian diperoleh dari tuturan lisan guru dan siswa yang dikumpulkan melalui observasi, perekaman, dan wawancara. Analisis data dilakukan dengan cara mentranskripsi tuturan, mengklasifikasikan bentuk tingkat tutur bahasa Jawa, menganalisis konteks tutur, dan menafsirkan temuan berdasarkan komponen etnografi komunikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat tutur bahasa Jawa yang dominan digunakan dalam interaksi edukatif adalah ragam ngoko dan krama. Guru cenderung menggunakan ragam krama dalam situasi formal, seperti penyampaian nasihat dan penegasan norma, serta ragam ngoko dalam interaksi yang bersifat santai untuk membangun kedekatan emosional. Sementara itu, siswa umumnya menggunakan ragam krama ketika berinteraksi dengan guru sebagai bentuk penghormatan, meskipun dalam situasi tertentu masih ditemukan penggunaan ngoko. Pemilihan tingkat tutur dipengaruhi oleh peran penutur dan mitra tutur, jarak sosial, situasi tutur, serta tujuan komunikasi. Penelitian ini menegaskan bahwa penggunaan tingkat tutur bahasa Jawa dalam interaksi edukatif tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai sarana penanaman nilai kesantunan, pembentukan karakter, dan pelestarian budaya lokal di lingkungan pendidikan dasar.</p>2026-10-15T03:46:06+08:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.umsrappang.ac.id/cakrawala/article/view/3105Representasi dan Faktor Penyebab Ketimpangan Gender dalam Novel Azab dan Sengsara Karya Merari Siregar: Kajian Sosiologi Sastra dalam Perspektif Teori Patriarki dan Struktur Sosial Gender2026-11-01T22:49:25+08:00Ade Sri Anugrahadesrianugrah655@gmail.comAndi Srimularahmahandisrimularahmah@gmail.comAndi Tenri Suatenrisuaandi@gmail.com<p>Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan representasi ketimpangan gender melalui penokohan, konflik, dan alur cerita serta menjelaskan faktor yang memengaruhi praktik ketimpangan tersebut dalam novel <em>Azab dan Sengsara</em> karya Merari Siregar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan perspektif sosiologi sastra yang ditopang teori patriarki (Walby), struktur sosial gender (Risman), dan habitus (Bourdieu). Data berupa 41 kutipan narasi dan dialog novel yang dikumpulkan melalui teknik studi pustaka, simak, dan catat, kemudian dianalisis dengan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketimpangan gender direpresentasikan secara berlapis. Melalui penokohan, ketimpangan tampak pada privilese anak laki-laki, konstruksi perempuan ideal yang patuh dan penyabar, internalisasi ketidakberdayaan, hingga objektifikasi Mariamin. Melalui konflik, ketimpangan bergerak dari pembungkaman verbal menuju kekerasan fisik dan perkawinan paksa. Melalui alur, ketimpangan berujung pada stigma sosial pascaperceraian. Praktik tersebut dipengaruhi oleh empat faktor yang saling mengunci, yaitu adat dan budaya patriarki, internalisasi nilai patriarki, kontrol sosial komunal, serta keterbatasan akses ekonomi dan pendidikan perempuan. Dengan demikian, novel ini menunjukkan bahwa ketimpangan gender bersifat struktural dan masih beresonansi dengan persoalan gender kontemporer.</p>2026-11-01T22:49:25+08:00##submission.copyrightStatement##https://jurnal.umsrappang.ac.id/cakrawala/article/view/3082Bentuk dan Fungsi Tindak Tutur Affiliator TikTok dr. Richard Lee, Louisse Scarlett, dan Kohcun dalam Membangun Keterlibatan Audiens: Kajian Sosiopragmatik2026-11-02T00:07:47+08:00Dewanthi Sekarpinastia310220102@student.ums.ac.idGallant Karunia Assidikgka215@ums.ac.id<p>Perkembangan TikTok sebagai media komunikasi digital mendorong affiliator menggunakan tuturan sebagai strategi untuk mempromosikan produk sekaligus membangun keterlibatan audiens. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk tindak tutur dan fungsi pertuturan affiliator TikTok dr. Richard Lee, Louisse Scarlett, dan Kohcun dalam perspektif sosiopragmatik. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan data berupa tuturan verbal dan nonverbal dari 50 video TikTok yang dikumpulkan melalui observasi nonpartisipatif, simak, catat, dan dokumentasi. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña, sedangkan bentuk tindak tutur mengacu pada klasifikasi Searle. Hasil penelitian menunjukkan empat bentuk tindak tutur, yaitu asertif 19 data (38%), direktif 16 data (32%), komisif 8 data (16%), dan ekspresif 7 data (14%), serta lima fungsi pertuturan, yaitu promotif, edukatif, informatif, persuasif, dan interaktif. Karakter pertuturan ketiga affiliator menunjukkan kecenderungan berbeda, yakni dr. Richard Lee informatif-edukatif, Louisse Scarlett personal dan emosional, serta Kohcun santai dan komunikatif. Simpulan penelitian menunjukkan bahwa tindak tutur affiliator tidak hanya digunakan untuk mempromosikan produk, tetapi juga menyampaikan informasi dan edukasi, membangun persuasi, serta menciptakan keterlibatan dengan audiens dalam komunikasi digital.</p>2026-11-02T00:07:47+08:00##submission.copyrightStatement##