https://jurnal.umsrappang.ac.id/plantklopedia/issue/feed PLANTKLOPEDIA: Jurnal Sains dan Teknologi Pertanian 2026-03-25T23:06:49+00:00 Rifni Nikmat Syarifuddin j.planklopedia@gmail.com Open Journal Systems <div style="background-color: #98dc85; padding: 30px 20px; border-radius: 20px; text-align: justify; box-shadow: 0 4px 15px rgba(0,0,0,0.15); border: 2px solid #76b852; transition: all 0.3s ease-in-out;"> <p><strong>Jurnal PLANTKLOPEDIA (Jurnal Sains dan Teknologi Pertanian) </strong>merupakan jurnal online sistem (OJS) yang diterbitkan oleh Program Studi Agroteknologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Muhammadiyah Sidenreng Rappang. Jurnal ini menyajikan artikel/karya ilmiah berupa hasil penelitian, analisis kebijakan, review/ tinjauan literatur dan gagasan penting dalam ilmu pertanian meliputi bidang Agronomi, Agribisnis, Budidaya Tanaman, Ilmu Tanah, Ilmu Hama dan Penyakit Tanaman, Teknologi Benih, Bioteknologi, Pemuliaan Tanaman, serta Tanaman Pangan dan Hortikultura. Jurnal ini diterbitkan secara berkala dua kali setahun yaitu pada bulan Maret dan September.</p> </div> https://jurnal.umsrappang.ac.id/plantklopedia/article/view/2272 ANALISIS USAHA TANI KOMPOS DAUN GAMAL (Gliricidia sepium) DAN PENGAPLIKASIANNYA PADA TANAMAN SAWI (Brassica juncea) 2026-03-25T15:37:30+00:00 Yusuf La'Lang Limbongan yusuflimbongan@ukitoraja.ac.id <p style="margin: 0cm; text-align: justify;">Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pupuk organik dari kompos daun gamal (Gliricidia sepium) terhadap pertumbuhan dan kualitas tanaman sawi hijau (Brassica juncea). Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan: B0 = Kontrol, B1 = 1 ton/ha (1 kg/polybag), B2 = 2 ton/ha (2 kg/polybag), dan B3 = 2,5 ton/ha (2,5 kg/polybag). Setiap ulangan terdiri dari 60 tanaman yang dibagi menjadi empat plot, masing-masing plot berisi lima tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan B3 (2,5 kg/polybag) memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan tanaman sawi, dengan tinggi tanaman rata-rata 28,47 cm, jumlah daun 13,78 helai, lebar daun 28,93 cm, dan bobot basah tanaman sebesar 302,11 gram. Pupuk kompos ini tidak hanya efektif meningkatkan pertumbuhan tanaman, tetapi juga memberikan solusi pengelolaan limbah ternak dan mendukung praktik pertanian berkelanjutan. Penggunaannya lebih aman dibandingkan pupuk kimia, menjaga kelembapan akar, serta tidak mencemari lingkungan. Analisis kelayakan ekonomi menunjukkan bahwa usaha pupuk kompos layak dikembangkan. Berdasarkan uji R/C ratio sebesar 3,44, usaha ini memberikan keuntungan, dengan Break Even Point (BEP) produksi minimal 871,83 kg dan harga jual minimal Rp 1.356/kg. Jika harga jual di bawah Rp 1.356/kg, usaha akan mengalami kerugian. Hasil Return on Investment (ROI) sebesar 3,44 menunjukkan bahwa setiap unit investasi menghasilkan keuntungan bersih sebesar 2,44 unit.</p> 2026-03-25T15:05:39+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.umsrappang.ac.id/plantklopedia/article/view/2277 Pengaruh Pupuk Organik Cair (POC) Rebung Bambu Aur (Dendrocalamus asper) Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Tomat (Solanum lycopersicum) 2026-03-25T15:37:30+00:00 Adewidar Marano Pa'tadungan adewidarmarano@ukitoraja.ac.id <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk organik cair (POC) rebung bambu aur (<em>Dendrocalamus asper</em>) terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman tomat (<em>Solanum lycopersicum</em>). Kegiatan penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2024 sampai Januari 2025 di Kebun percobaan Pakkea, Fakultas Pertanian, Universitas Kristen Indonesia Toraja. Penelitian ini merupakan penelitian faktor tunggal, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 5 taraf perlakuan yaitu P0 = 0% POC (kontrol), P1= 10% (100 ml POC + 900 ml air), P2 = 20% (200 ml POC + 800 ml air), P3= 30% (300 ml POC + 700 ml air), dan P4= 40% (400 ml POC + 600 ml air). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian konsentrasi 40% (400 ml POC + 600 ml air) memberikan hasil terbaik dan berpengaruh nyata terhadap semua variabel pengamatan yakni tinggi tanaman, diameter batang, jumlah buah per tanaman, diameter buah, bobot tanaman sampel, bobot per buah, dan bobot buah per plot.</p> 2026-03-25T15:09:57+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.umsrappang.ac.id/plantklopedia/article/view/2278 Pengaruh Pupuk Organik Cair (POC) Rebung Bambu Aur (Dendrocalamus asper) Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Sawi Hijau (Brassica juncea L.) 2026-03-25T15:37:30+00:00 Ernytha Anytha Galla ernythagalla@ukitoraja.ac.id <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Pupuk Organik Cair (Poc) Rebung Bambu Aur (Dendrocalamus asper) Terhadap Pertumbuhan Tanaman Sawi Hijau (Brassica juncea L.). penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Pakkea’ Fakultas Pertanian Universitas Kristen Indonesia Toraja, dari bulan November 2024 sampai Januari 2025. Penelitian ini merupakan percobaan faktor tunggal yang disusun dalam Rancangan Acak Kelompok dengan 5 taraf perlakuan dan 3 ulangan, yaitu P0= control, P1= 100 ml POC + 900 ml air, P2= 200 ml POC + 800 ml air, P3= 300 ml POC + 700 ml air, P4= 400 ml POC + 600 ml air. Variabel yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, lebar daun, dan bobot basah. hasil penelitian disimpulkan bahwa pemberian POC rebung bambu aur berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan tanaman sawi hijau. Pemberian Perlakuan POC rebung bambu aur dengan konsentrasi 40% (400 ml POC + 600 ml air) (P4) merupakan dosis terbaik terhadap semua variabel pengamatan yakni tinggi tanaman, jumlah daun, lebar daun dan bobot basah tanaman.</p> 2026-03-25T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.umsrappang.ac.id/plantklopedia/article/view/2276 PRODUKSI PUPUK ORGANIK CAIR REBUNG BAMBU (Dendrocalamus asper) TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN SELADA (Lactuca Sativa L.) 2026-03-25T15:37:30+00:00 Adewidar Marano Pa'tadungan adewidarmarano50771@gmail.com <p>Proyek penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai ekonomi dari POC rebung bambu aur dan untuk meninjau pengaruh dan dosis terbaik POC rebung bambu aur terhadap pertumbuhan dan tanaman selada yang dilaksanakan pada bulan Oktober 2024 sampai Januari 2025 di Kebun percobaan Fakultas Pertanian Kampus 2 UKI Toraja (Pakkea) Toraja Utara. Penelitian ini merupakan penelitian faktor tunggal, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 5 taraf perlakuan yaitu P0 = 0% POC (kontrol), P1= 10% (100 ml POC + 900 ml air), P2 = 20% (200 ml POC + 800 ml air), P3= 30% (300 ml POC + 700 ml air), dan P4= 40% (400 ml POC + 600 ml air). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian konsentrasi 40% (400 ml POC + 600 ml air) memberikan hasil terbaik pada tinggi tanaman umur 21 HST, 28 HST, 35 HST, lebar daun umur 21 HST, 28 HST, 35 HST, jumlah daun umur 21 HST, 28 HST, 35 HST dan bobot basah tanaman. Jumlah produksi POC rebung aur bambu yang dihasilkan dalam proyek penelitian ini yaitu 200 liter.&nbsp;</p> 2026-03-25T15:16:40+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.umsrappang.ac.id/plantklopedia/article/view/2288 EFEKTIVITAS PUPUK ORGANIK CAIR (POC) REBUNG BAMBU PLUS UNTUK PERTUMBUHAN TANAMAN BAWANG MERAH (Allium cepa) 2026-03-25T15:37:30+00:00 Alberto Sarung albertosarungallo540@gmail.com sepsriyanti Kannapadang sepsriyanti@ukitoraja.ac.id <p>Proyek penelitian ini menggunakan POC rebung bambu yang kaya nutrisi makro utama untuk pertumbuhan tanaman seperti Nitrogen, fosfor, Kalium dan nutrisi mikro bagi tanaman. Pupuk organik cair rebung bambu mengandung : N = 3,58 %, P= 5,61 %,, K = 2,65 %, pH:6,54 %. Pengaplikasiannya pada tanaman Bawang merah <em>(Allium ascalonicum L.) </em>merupakan salah satu komoditas pangan yang dihasilkan oleh sektor pertanian yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi serta mejadi salah satu barang yang penting dan selalu ada dipasaran. Proyek penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai ekonomi dari POC rebung bambu dan untuk meninjau pengaruh dan dosis terbaik POC rebung bambu terhadap pertumbuhan tanaman bawang merah yang dilaksanakan pada bulan Juni-Agustus 2025 di Kebun percobaan Fakultas Pertanian Kampus 2 UKI Toraja (Pakkea) Toraja Utara. Penelitian ini merupakan penelitian faktor tunggal, menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 4 taraf perlakuan yaitu P1= 10% (100 ml POC + 900 ml air), P2 = 20% (200 ml POC + 800 ml air), P3= 30% (300 ml POC + 700 ml air), dan P4= 40% (400 ml POC + 600 ml air). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian konsentrasi 10% (100 ml POC + 900 ml air) memberikan hasil terbaik pada tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan per tanaman dan diameter umbi.</p> 2026-03-25T15:23:06+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.umsrappang.ac.id/plantklopedia/article/view/2287 PRODUKSI PUPUK ORGANIK CAIR DAUN LAMTORO (Laucaena leucocephala) PLUS YANG DI APLIKASIKAN PADA TANAMAN HORTIKULTURA 2026-03-25T15:37:30+00:00 reflianto palimbong reflipalimbong80@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pupuk organik cair (POC) daun lamtoro plus terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman hortikultura, yaitu pakcoy (<em>Brassica rapa</em> L.) dan tomat (<em>Solanum lycopersicum</em> L.). Penelitian dilaksanakan pada Februari–Juli 2025 di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Kristen Indonesia Toraja, Kecamatan Tallunglipu, Kabupaten Toraja Utara. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan lima taraf konsentrasi POC daun lamtoro plus, yaitu P0 = kontrol (tanpa POC), P1 = 10%, P2 = 20%, P3 = 30%, dan P4 = 40%. Variabel pengamatan pada tanaman pakcoy meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, bobot per tanaman, dan bobot per plot. Variabel pengamatan pada tanaman tomat meliputi tinggi tanaman, jumlah buah per tanaman, bobot buah per tanaman, jumlah buah per plot, dan bobot buah per plot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi P3 (30%) memberikan respon terbaik pada kedua jenis tanaman. Pada pakcoy, perlakuan P3 meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, bobot per tanaman, dan bobot per plot. Pada tomat, perlakuan P3 menghasilkan pertumbuhan dan produktivitas tertinggi pada semua parameter yang diamati. Analisis ekonomi menunjukkan bahwa POC daun lamtoro plus memiliki prospek pengembangan yang baik karena bahan bakunya mudah diperoleh, berbiaya rendah, ramah lingkungan, serta berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia. Dengan demikian, POC daun lamtoro plus dapat menjadi alternatif inovatif dalam mendukung budidaya tanaman hortikultura yang berkelanjutan.</p> 2026-03-25T15:25:38+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.umsrappang.ac.id/plantklopedia/article/view/2684 Pemanfaatan Bokashi Dari Limbah Ternak Kerbau Sebagai Sumber Pupuk Organik Untuk Meningkatkan Produksi Tanaman Mentimun (Cucumis Sativus) 2026-03-25T15:37:30+00:00 Melky Pabutungan spesriyanti@gmail.com Elisabet Kombasaratu spesriyanti@gmail.com Yusuf L. Limbongan spesriyanti@gmail.com Sepsriyanti Kannapadang spesriyanti@gmail.com Driyunita Driyunita spesriyanti@gmail.com Ernita A. Galla spesriyanti@gmail.com <p>Penelitian dengan judul Pemanfaatan bokashi dari limbah ternak kerbau sebagai sumber pupuk organik untuk menigkatakan produkasi tanaman Mentiumun(<em>Cucumis sativus)</em>di lakasanakan di Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk bokashi yang berasal dari limbah ternak kerbau terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman mentimun (<em>Cucumis sativus),</em> serta menganalisis kelayakan usaha tani dari penggunaannya. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Sa’dan, Toraja Utara pada februari-juni 2025 dengan rancangan acak kelompok (RAK) satu faktor Ilmia taraf yaitu; P0 (kontrol),P1 (300g/polybag), P2 (400g/polybalybag) P3 (500g/polybag) dan P4 (600g/polybag), masing-masing di ulang tiga&nbsp; kali. Parameter yang diamati pada tanaman Mentimun &nbsp;dengan Komoditi.&nbsp;Mentimun ini dikenal dengan&nbsp;warna buah hijau gelap, ukuran sekitar 24 x 6 cm, dan dapat dipanen pada umur sekitar 34 hari setelah tanam (hst ditanam di dataran rendah hingga menengah.&nbsp;meliputi tinggi tanaman, panjang batang utama, jumlah daun, diameter batang, jumlah bunga, jumlah buah, berat buah, serta ukuran buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk bokashi limbah ternak kerbau berpengaruh nyata terhadap sebagian besar parameter pertumbuhan dan hasil tanaman mentimun. Perlakuan P2(400/g polybag) memberikan hasil terbaik pada tinggi tanaman mentimun, jumlah per petak. Analisis usaha tani menunjukkan nilai R/C ratio sebesar 1,04, yang berarti usaha layak dijalankan karena setiap biaya Rp1,00 menghasilkan penerimaan Rp1,04. Nilai BEP produksi tercapai pada 1,139 kg dengan BEP harga jual sebesar 3.861,00/kg. Dengan demikian , Pepupuk bokashi dari limbah ternak kerbau berpotensi menjadi alternatif pupuk organik yang efektif meningkatkan hasil tanaman mentimun sekaligus mendukung praktik pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan</p> 2026-03-25T15:28:30+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.umsrappang.ac.id/plantklopedia/article/view/2464 PEMANFAATAN LIMBAH SAGU SEBAGAI PEMBENAH TANAH KAPUR DI FOOD ESTATE KABUPATEN MAJENE 2026-03-25T16:00:34+00:00 Dwi Ratna Sari dwi.ratnasari@unsulbar.ac.id Ilham Ilham ilham@unsulbar.ac.id Asia Arifin asia.arifin@unsulbar.ac.id <p>Tanah kapur merupakan salah satu jenis lahan marjinal yang memiliki keterbatasan dalam mendukung pertumbuhan tanaman akibat rendahnya kandungan bahan organik, kapasitas tukar kation, dan kejenuhan basa. Upaya perbaikan sifat tanah dapat dilakukan melalui pemanfaatan bahan organik lokal seperti limbah sagu. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh pemberian kompos limbah sagu terhadap perbaikan karakteristik kimia tanah kapur di Kabupaten Majene. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober hingga Desember 2024 di kawasan Food Estate Majene, Provinsi Sulawesi Barat. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan rancangan acak kelompok lengkap yang terdiri atas empat perlakuan perbandingan tanah dan kompos limbah sagu (P0 = tanpa kompos, P1 = 1:1, P2 = 2:1, dan P3 = 3:1) serta empat ulangan. Parameter yang diamati meliputi pH tanah, rasio C/N, kejenuhan basa (KB), dan kapasitas tukar kation (KTK). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kompos limbah sagu berpengaruh nyata terhadap semua parameter pengamatan. Nilai pH tanah meningkat dari 6,15 pada kontrol (P0) menjadi 6,74 pada perlakuan P2 dan 6,69 pada P3. Rasio C/N tanah juga mengalami peningkatan dari 10,00 (P0) menjadi 14,00 (P3). Kejenuhan basa meningkat cukup signifikan, dari 31,00% pada kontrol menjadi 45,00% pada perlakuan P3. Nilai KTK tertinggi dicapai pada perlakuan P2 sebesar 24,15 cmol(+)/kg, meningkat dari 20,19 cmol(+)/kg pada kontrol. Hasil ini menunjukkan bahwa kompos limbah sagu berpotensi digunakan sebagai pembenah tanah organik untuk meningkatkan kesuburan tanah kapur dan mendukung praktik pertanian berkelanjutan di wilayah Majene</p> 2026-03-25T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.umsrappang.ac.id/plantklopedia/article/view/2280 Potensi Peningkatan Produksi Cabai Katokkon (Capsicum annum var. chinense) Dengan Pemberian Bokashi Limbah Ternak Ayam Dan Mulsa Jerami 2026-03-25T17:50:35+00:00 Kelvin Joni Kelvinjoni31@gmail.com Hendrik Rapa' Ambaa hendrikrapaa@gmail.com Sepsriyanti Kannapadang sepsriyanti@ukitoraja.ac.id <p>Cabai Katokkon (<em>Capsicum annuum var. chinense</em>) khas Toraja merupakan salah satu komoditas pertanian yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan menjadi bagian integral dari budaya kuliner masyarakat Toraja. Cabai ini dikenal dengan rasa pedas yang khas dan aroma yang kuat, menjadikannya bahan utama dalam berbagai masakan tradisional. Meskipun memiliki potensi besar, produksi cabai Katokkon masih mengalami permasalahan khususnya dalam hal budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi peningkatan produksi cabai katokkon (<em>capsicum annum var. chinense</em>) dengan pemberian bokashi limbah ternak ayam dan mulsa jerami. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan dua faktor perlakuan yaitu, pemberian mulsa jerami padi dengan taraf&nbsp; M0 = tanpa mulsa (kontrol), MJ= menggunakan mulsa jerami (ketebalan 10 cm) dan pemberian dosis bokashi limbah ternak ayam dengan taraf perlakuan K0= tanpa bokashi (kontrol), K1 =200 g/tanaman, K2=300 g/tanaman, K3=400 g/tanaman. Variable pengamatan yang diukur dalam penelitian ini meliputi tinggi tanaman, jumlah buah per tanaman, jumlah buah per petak, bobot buah per tanaman, dan bobot buah per petak. Hasil analisis menunjukkan bahwa Perlakuan&nbsp; 500gr/tanaman menunjukkan hasil yang signifikan pada tinggi tanaman, jumlah buah pertanaman, jumlah buah perpetak, bobot buah pertanaman, dan bobot buah perpetak.</p> 2026-03-25T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.umsrappang.ac.id/plantklopedia/article/view/2391 DINAMIKA KETAHANAN PANGAN KELUARGA PETANI PADI SAWAH (STUDI: KELUARGA PETANI PENGGARAP DI KECAMATAN WARA, KOTA PALOPO) 2026-03-25T17:53:05+00:00 NADILA NADILA nadilaalfarahidi@gmail.com <p><em>Rice farmers' families' food security is crucial, particularly in urban-rural transition zones like Wara District Palopo City.&nbsp; The Household Food Insecurity Access Scale (HFIAS) will be used to investigate rice farming households' food security dynamics and economic feasibility.&nbsp; This census included all 50 rice farming households in Wara District, Palopo City.&nbsp; Data was acquired via structured questionnaires on demographics, land access, agricultural systems, household spending, and food security.&nbsp; The Benefit-Cost (B/C) and Income-Cost (R/C) ratios determine the economic viability of alternative planting methods, whereas the HFIAS classifies families as food secure, mild, moderate, or severe.&nbsp; Most responders (41-60 years old) are productive and have secondary education.&nbsp; Family sizes average 4-5 and land ownership is 0.25-1 Ha.&nbsp; With an average HFIAS score of 7.04, families have minor food insecurity.&nbsp; Rice availability is consistent, but dietary diversification, notably vegetable and fruit intake, is restricted.&nbsp; The Legowo 2:1 approach yields the maximum net revenue and efficiency in agricultural systems, although the Tabela method is more popular owing to its simplicity.&nbsp; Finally, rice farmers in Wara District, Palopo City enjoy the most basic food security but are subject to food shortages and economic shocks.&nbsp; Household food security requires policy assistance, notably in land conservation, income diversification, and nutrition education.</em></p> 2026-03-25T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.umsrappang.ac.id/plantklopedia/article/view/2567 Identifikasi Hama pada Komoditas Jagung selama Penyimpanan di Kabupaten Sidenreng Rappang 2026-03-25T18:05:44+00:00 Rahmiyati Rahmiyati rahmiyati.anthy@gmail.com Yulis Sayang yulissayang58@gmail.com Zulfitriany Mustaka rahmatjahuddin61@gmail.com <p>Storage pest attacks represent a significant factor in the decline in the quality and quantity of corn kernels during storage. The objective of this study is to ascertain the species of storage pests that have been identified in corn commodities during storage in Sidenreng Rappang Regency. The study was conducted in five storage warehouses, with six sampling points in each warehouse. A total of 1 kg was collected at each sampling point. The identification of the corn samples was conducted through a series of morphological assessments. This process involved the utilisation of a laboratory sieve, a stereo microscope, and a warehouse pest identification key. The results of the study demonstrated the presence of eight pest species, namely<em> Sitophilus </em>sp<em>., Tribolium castaneum, Cryptolestes ferrugineus, Rhizopertha dominica, Carpophilus dimidiatus, Palorus depressus, Alphitobius diaperinus, and Typhaea stercorea. </em>The presence of primary pests, such as <em>Sitophilus</em> sp. and <em>R</em>. <em>dominica,</em> indicates the potential for internal damage to the kernels, while the dominance of secondary pests leads to storage quality degradation due to contamination and surface damage. The identification results obtained are of paramount importance in formulating a warehouse pest control strategy for the corn storage system in Sidenreng Rappang Regency.</p> 2026-03-25T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.umsrappang.ac.id/plantklopedia/article/view/2263 THE PENGARUH PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR BONGGOL PISANG DAN AZOLLA MERAH TERHADAP TANAMAN MENTIMUN (Cucumis sativus L.) 2026-03-25T18:40:15+00:00 ALPRIANTI PANGIGI' alpriantipangingi@gmail.com JUNARLON B krkjunarlon@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon tanaman mentimun terhadap pemberian POC yang berasal dari bonggol pisang dan azolla merah. Bonggol pisang&nbsp; diketahui mengandung unsur hara makro seperti karbon (C),&nbsp; nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K), sedangkan azolla merah&nbsp; merupakan sumber daya pertanian multifungsi yang kaya akan nutrisi. Kombinasi keduanya diharapkan&nbsp; mampu meningkatkan kesuburan tanah secara alami serta mendukung pertumbuhan dan hasil tanaman mentimun secara optimal. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pemberian POC terhadap parameter vegetatif seperti tinggi tanaman dan jumlah daun serta parameter generatif seperti jumlah buah dan berat buah tanaman mentimun, dan membandingkannya dengan perlakuan tanpa POC. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi petani lokal dalam mengembangkan pupuk organik berbasis sumber daya lokal yang ramah lingkungan, efisien, dan berkelanjutan untuk meningkatkan produktivitas pertanian di wilayah Tana Toraja.</p> 2026-03-25T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.umsrappang.ac.id/plantklopedia/article/view/2639 RESPON PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN JAGUNG MANIS (Zea mays saccharata Sturt L .) PADA SISTEM OLAH TANAH DAN PESTISIDA NABATI 2026-03-25T22:40:01+00:00 Sutra A Said sutrasaid0@gmail.com Fitriah Suryani Jamin fitriah.jamin@ung.ac.id Hasna Dama hasna@ung.ac.id Indriati Husain indriati.husain@ung.ac.id Suyono Dude suyonodude@ung.ac.id <p><em>Sweet corn (Zea mays saccharata Sturt L.) is a horticultural commodity with high economic value and broad development prospects in Indonesia. However, its production still faces several constraints, including declining productivity due to suboptimal cultivation practices and disturbances from plant pests. This study aimed to evaluate the effects of tillage systems and botanical pesticides, as well as their interaction, on the growth and yield of sweet corn. The research was conducted in Matinan Village, Gadung District, Buol Regency, Central Sulawesi Province. The experiment employed a factorial randomized block design with two factors. The first factor was the tillage system, consisting of two levels: no-tillage (NT) and minimum tillage (MT). The second factor was botanical pesticide application, consisting of three levels: no pesticide (control), 100 mL/L papaya leaf extract (P1), and 100 mL/L soursop leaf extract (P2). The results showed that both tillage systems, no-tillage and minimum tillage, had no significant effect on the growth and yield of sweet corn, including plant height, number of leaves, leaf area, flowering percentage, ear length, and fresh weight of 100 seeds. The application of botanical pesticides made from papaya and soursop leaf extracts also had no significant effect on all observed parameters.</em></p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong><em>K</em></strong><strong><em>e</em></strong><strong><em>ywords: </em></strong><em>botanical pesticide; growth; minimum tillage; no-tillage;&nbsp; sweet corn</em></p> 2026-03-25T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.umsrappang.ac.id/plantklopedia/article/view/2646 Optimization of Mini Potato Tuber Using Multiple Doses of Growth Regulators in an Aeroponic System 2026-03-25T22:42:05+00:00 Zulfardi Ashar ardhy.pangan@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan umbi mini kentang dengan beberapa dosis zat pengatur tumbuh. Zat pengatur tumbuh yang umumnya digunakan dalam praktek budidaya kentang adalah Auksin, Giberelin, dan Sitokinin. Penelitian ini dilakukan di kelurahan Pattapang Kecamatan Tinggimoncong Kabupaten Gowa. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan januari sampai bulan November 2023. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok dengan 10 perlakuan yaitu: kontrol, auksin 5 mL, auksin 10 mL, auksin 15 mL, giberelin 5 mL, giberelin 10 mL, giberelin 15 mL, sitokinin 5 mL, sitokinin 10 mL, dan sitokinin 15 mL. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat di simpulkan bahwa : (1) Hormon auksin dosis 10 mL yang memberikan rata-rata terbaik terhadap variabel vegetatif tanaman kentang yang dikembangkan secara aeroponik., (2) Hormon auksin dosis 10 mL memberikan nilai rata-rata yang terbaik terhadap variabel generatif tanaman kentang yang dikembangkan secara aeroponik., (3) Pengembangan bibit umbi mini kentang yang bermutu dapat dilakukan dengan pemberian hormon auksin dengan dosis 10 mL</p> 2026-03-25T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement## https://jurnal.umsrappang.ac.id/plantklopedia/article/view/2647 Uji Efektivitas Pemberian Berbagai Dosis dan Interval Waktu Pemberian Pupuk Organik Cair Biota Plus Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Tomat (Solanum lycopersicum) 2026-03-25T23:06:49+00:00 MASDAR FATMAN iqraini1995@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pemberian berbagai dosis dan interval waktu aplikasi pupuk organik cair (POC) Biota Plus terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman tomat (<em>Solanum lycopersicum</em>). Penelitian dilaksanakan di Desa Ambopadang, Kecamatan Tubbi Taramanu, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat pada bulan April–Juli 2025. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial dengan dua faktor, yaitu dosis POC Biota Plus (0 cc/liter, 10 cc/liter, dan 20 cc/liter air) dan interval waktu pemberian (1 minggu, 2 minggu, dan 3 minggu sekali). Terdapat 9 kombinasi perlakuan dengan 3 ulangan sehingga diperoleh 27 unit percobaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interaksi antara dosis dan interval waktu pemberian POC Biota Plus terhadap seluruh parameter pengamatan. Interval waktu pemberian tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman tomat. Sebaliknya, dosis POC Biota Plus berpengaruh sangat nyata pada parameter tinggi tanaman umur 42 dan 56 hari setelah tanam (HST), jumlah daun umur 42 HST, waktu munculnya bunga, jumlah buah, dan berat buah. Dosis 20 cc/liter air memberikan hasil terbaik dibandingkan dosis 10 cc/liter air dan kontrol. Dengan demikian, penggunaan POC Biota Plus dosis 20 cc/liter air efektif dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman tomat, sedangkan perbedaan interval waktu pemberian tidak memberikan pengaruh yang signifikan</p> 2026-03-25T00:00:00+00:00 ##submission.copyrightStatement##